Sabtu , 19 Oktober 2019
Anak-Anak Akhir Zaman

Anak-Anak Akhir Zaman

CAHYALOKA.COM – Banyak yang bilang mendidik anak zaman sekarang itu susah-susah gampang. Lebih banyak susahnya daripada gampangnya. Jika dulu sekali dinasehati orang tua kita langsung menurut dan mengingat nasihat tersebut dalam-dalam sampai ke hati, sebaliknya hari ini, anak-anak seperti bebal tak bisa dinasihati, malah terkadang melawan dengan sangat arogan.

Arus kemajuan zaman yang menciptakan dunia impian semu dalam berbagai media massa sosial dituding sebagai pelaku utama adanya pergeseran nilai dalam berhubungan dengan masyarakat secara nyata. Anak-anak menjadi “pandai” secara intelektual namun sekaligus menjadi “lumpuh” secara akhlak, minus kemampuan bertahan hidup (Life Skill) dan tak mengenal proses . Dampaknya  menjadi pecandu “gaya hidup materialistis” dan apatis terhadap lingkungan sekitar.

Berbondong-bondong sekolah-sekolah pembangunan karakter didirikan untuk menyelamatkan anak bangsa akhir zaman. Berbagai konsep materi tentang akhlak sengaja diciptakan agar segala kisah kelam tentang anak-anak akhir zaman tak sampai menemui kejayaannya pada generasi penerus hari ini. Berbagai kesempatan bahkan kita orangtua sering mencekoki anak-anak dengan berbagai teori parenting hanya untuk membuktikan bahwa kita adalah orang tua yang peduli dan amanah terhadap titipanNya. Sehingga kita lupa bahwa untuk menanamkan sebuah konsep nilai yang melekat, tidak cukup hanya dengan menjejali mereka dengan berbagai teori. Paling pertama yang harus kita menangkan adalah hati mereka. Seringnya mengajak anak-anak ngobrol ringan seputar dunianya merupakan pintu masuk yang baik untuk memenangkan hati mereka. Mengenali ke-istimewaan masing-masing anak adalah langkah cerdik selanjutnya agar kita tak salah arah dalam menentukan pola asuh yang sesuai. Kenali apa saja yang mereka suka lakukan sehingga kita turut memberi ruang bagi mereka untuk menemukan identitas yang sesungguhnya.

Jika hari ini anak-anak kita menjadi pecandu gaya hidup kekinian yang lebih mengedepankan ego semata, besar kemungkinan karena mereka telah menemukan keasyikkan pada zona tersebut. Selanjutnya, untuk mengalihkan dunia itu kita perlu “menyajikan” keasyikan lain agar anak-anak menjadi pecandu terhadap keasyikan yang kita sajikan. Tak perlu merekadaya sesuatu yang rumit dan mahal, melakukan banyak hal sederhana dengan melibatkan seluruh anggota keluarga juga sudah menjadi langkah awal mengalihkan dunia kelam anak-anak akhir zaman hari ini.

Percayalah, sekolah terasyik sekalipun tak ‘kan mampu menggantikan sentuhan kasih yang lebih asyik dari orangtua sendiri. Sebagai orang tua kita memang tidak pernah sekolah khusus dan mendapatkan sertifikat layak mengasuh dan mendidik anak. Tapi itu semua sangat bisa dilakukan bermodal niat yang besar. Seorang pelukis hanya akan menghasilkan lukisan yang indah jika saat mengerjakannya ia serius dan mengajak hatinya untuk turut serta. Pun pekerja profesional akan mencapai goal –nya ketika ia berikhtiar dengan maksimal di setiap proses mencapai goal tersebut.
Jadi ini hanyalah perkara serius atau tidak serius, bersungguh-sungguh atau separuh hati, maksimal atau minimalis, prioritas atau hanya penggugur kewajiban.

Bisa jadi pada kegiatan membetulkan keran bersama antara ayah dan anak-anak lelakinya menjadi momen spesial bagi anak untuk belajar bertahan hidup. Atau mungkin kegiatan membersihkan rumah bersama ibu bisa merangsang rasa peduli seorang anak perempuan untuk peka terhadap lingkungan sekitar. Belum lagi ditambah kisah-kisah atau cerita yang disampaikan oleh ayah ataupun ibu secara bergantian mampu menjadi wahana berdialog dalam menyelesaikan berbagai permaalahan tanpa harus merasa digurui.

Sesederhana itu memang, namun tentu butuh niat dan semangat yang tidak sederhana. Niat dan semangat membersamai anak-anak harus besar dan terus tumbuh. Karena tidak bisa hanya sekali dua kali aksi-aksi penuh cinta ini mampu membuat mereka “terbius” seketika. Butuh pengulangan dan kesabaran agar mereka benar-benar paham bahwa hal terasyik yang mereka butuhkan ada dekat dengan mereka. Bukan yang semu dan sementara yang bertebaran diluar sana dengan kilauannya.

Anak-anak akhir zaman adalah para pemimpin yang dipundaknya terdapat amanah untuk menyelamatkan peradaban yang sudah berada di ujung tanduk ini. Mereka butuh banyak sentuhan kasih sayang, kepercayaan, pendampingan yang tulus serta doa yang tak putus agar tak tersesat dari tugasnya yang mulia itu, yaitu menjaga peradaban kembali pada fitrah yang sejati. Wallahu’alam. [gkw]

 

#Parenting

Reaksi anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Lihat Juga

Selamat Hari Anak

Setiap Anak Punya Peran Peradaban

CAHYALOKA.COM – Judul ini saya ambil dari ucapan Bunda Diena Syarifah, seorang praktisi peta bakat …

WhatsApp Kami