Hari Pertama Sekolah

Merayakan Hari Pertama Masuk Sekolah

CAHYALOKA.COM – Setelah hampir sebulan lebih jalanan ibukota sepi dikarenakan liburan panjang anak sekolah, maka di hari pertama tahun ajaran baru 2018 ini semua serasa penuh dan tumpah ruah. Tak hanya jalanan yang sudah macet sejak matahari terbit, namun juga segala macam perasaan yang hadir pada hari pertama masuk sekolah. Ada yang berdebar karena baru menjalankan status baru sebagai  siswa TK, SD, SMP bahkan SMA. Ada yang sudah tak tahan menahan rindu bercanda dengan sahabat-sahabat di kelas karena lamanya liburan. Atau bahkan ada yang merasa kurang bergairah karena masih ingin merasakan liburan lebih panjang lagi.

Terlepas dari pro-kontranya sistem zonasi sebagai syarat masuk sekolah baru, tetap saja hari pertama sekolah adalah hari yang penuh cerita bagi anak-anak yang menjalaninya. Ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan dalam rangka memberikan dukungan agar anak-anak merasa lebih nyaman dan santai saat mereka mulai melangkahkan kakinya di gerbang sekolah.

1. Berikan kepercayaan
Mungkin kita merasa bahwa kitalah yang paling memahami apa, siapa dan bagaimana anak kita seutuhnya, sehingga ketika mereka berada pada lingkungan dan situasi yang baru terkadang kita terlalu merasa khawatir jika mereka berada pada tangan yang tak seterampil kita sebagai orang tuanya. Pikiran semacam ini akan mempengaruhi kita dalam memperlakukan anak-anak saat mereka berada jauh dari kita (memasuki sekolah baru). Tanpa sadar kita sering ‘mentransfer’ energi khawatir itu sehingga mereka betul-betul menjadi mengkhawatirkan persis seperti apa yang kita pikirkan.

Maka yang perlu kita lakukan adalah mempercayai mereka sebagai pribadi yang mampu beradaptasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang mereka hadapi, karena manusia memang terlahir dengan fitrah mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya beberapa saat setelah mereka memahami situasinya.

2. Membekali dengan semangat belajar
Sekolah sesungguhnya bukanlah hanya sebagai tempat menimba ilmu akademik semata sehingga anak-anak dapat ‘dicetak’ dengan kemampuan yang harus sama dan seragam. Masing-masing anak memiliki keunikan dan potensi menonjolnya masing-masing yang seluruhnya tidak lebih unggul dari yang lainnya. Misalnya mereka yang memiliki potensi lebih dalam bidang sains tak lantas menjadi lebih unggul dari mereka yang memiliki potensi lebih di bidang olah raga, seni atau berbahasa.

Dengan ‘mindset’ semua anak istimewa, maka kita bisa membekali mereka semangat untuk belajar hal-hal lain yang tak hanya berhubungan denga mata pelajaran disekolah semata. Seperti informasi mengenai asyiknya mendapatkan teman baru, serunya berpetualang menjelajahi lingkungan sekolah, berharganya buku-buku yang bertebaran di perpustakaan sekolah, indahnya menjaga sekolah tetap bersih dan nyaman, serta informasi-informasi menyenangkan lainnya yang dapat menambah semangat ananda masuk sekolah.

3. Merespon positif semua cerita tentang hari pertama sekolah
Ketika mereka telah melewati hari pertama di sekolah, maka bertanyalah apa yang sudah mereka lakukan dan rasakan saat mereka menjalaninya hari itu. Apapun cerita yang keluar dari mulut mereka, berikan respon yang positif. Gali semakin banyak dengan ngobrol santai agar kita memiliki data yang semakin memadai tentang betapa istimewa dan hebatnya anak-anak kita.

4. Mengajaknya untuk menuliskan pengalaman hari pertama sekolah
Menulis adalah sebuah peristiwa belajar yang memiliki makna dan membekas. Dengan menulis anak belajar mendeskripsikan rasa dan mengabadikannya. Anak-anak akan semakin mampu mengenali dirinya melalui catatan peristiwa yang mereka rangkai. Pada akhirnya kumpulan tulisan yang sudah mereka buat selama masa pembelajaran di sekolah akan menjadi semacam panduan untuk menentukan kea rah mana mereka akan melanjutkan perjalanan sebagai seorang pembelajar sejati.

Selamat merayakan hari pertama sekolah ananda dengan sebaik-baik pengalaman yang kita ciptakan bersama mereka. Sebab sejatinya, bukan dimana tempat mereka sekolahlah yang dapat menjamin mereka sukses mengarungi kehidupan ini. Dukungan 100% lahir batinlah yang lebih berpotensi membawa mereka berkembang sesuai fitrahnya masing-masing. Wallahu’alam (gkw)

Reaksi anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Lihat Juga

Kak Galuh dan Bunda Elly Farida

Bersama Bunda Elly Farida, Berjama’ah Seperti Semut

Jargon-jargon seperti Kota Layak Anak, Sekolah Ramah Anak, dan bahkan sampai pada RW Ramah Anak patut diperjuangkan dengan kesungguhan dan kesinergian agar tak hanya terlihat "ramah" sebagai predikat semata tanpa bukti yang mendukung.