Selasa , 16 Agustus 2022
Eril-Emmeril Kahn Mumtadz

5 Hal Berharga dalam Kisah Eril

CAHYALOKA.COM – Sejak 26 Mei 2022, hati kita campur aduk detik demi detik menanti berita kepastian tentang hilangnya Eril, putra sulung pak Ridwan Kamil di sungai Aare. Hari-hari awal hati ini dipenuhi rasa optimism dan pemikiran positif. Hari-hari berikutnya dipenuhi kecemasan, tangisan dan ribuan pertanyaan; entah itu pertanyaan logis atau tak logis. Hari-hari ini, kepasrahan dan tawakal yang bulat memenuhi benak dan jiwa kita masing-masing.

Kisah Eril mengharu biru bangsa Indonesia, terutama mereka yang memiliki predikat sebagai orangtua, khususnya para ibu. Saya dan banyak sekali para ibu, terjaga malam hari dan terbangun di pagi hari dengan mengetik di 𝘨𝘰𝘰𝘨𝘭𝘦 satu nama : Eril.

Anak muda yang ranum ini, pemuda di usia 23 tahun dengan senyumnya yang khas, memberikan pelajaran berharga bagi kita sebagai manusia. Kalau ini adalah pamungkas hidupnya, maka ia pergi dengan iringan doa-doa terbaik. Kalau ini adalah awal hidup abadinya, maka ia memulainya dengan sebuah gelar terbaik : 𝘴𝘺𝘢𝘩𝘪𝘥.

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘺𝘢𝘩𝘪𝘥 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘪𝘮𝘢, 𝘺𝘢𝘬𝘯𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘩𝘰’𝘶𝘯 (𝘸𝘢𝘣𝘢𝘩), 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘵, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘭𝘢𝘮, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘮𝘱𝘢 𝘳𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘺𝘢𝘩𝘪𝘥 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.” (𝘏𝘙. 𝘉𝘶𝘬𝘩𝘢𝘳𝘪 & 𝘔𝘶𝘴𝘭𝘪𝘮)

Bagi saya pribadi, sejak sepekan lalu, kisah Emmeril Kahn Mumtadz atau yang akrab disapa Eril, telah memberi banyak pelajaran berharga.

1. 𝑰𝒌𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈𝒕𝒖𝒂-𝒂𝒏𝒂𝒌

Masyarakat mengenal pak Ridwan Kamil dan teh Atalia sebagai tokoh masyarakat. Kedekatan keduanya dengan anak-anaknya, memberikan pelajaran berharga bagi kita yang memiliki keluarga bagaimana seharusnya sebuah ikatan dibangun. Sejak awal berita hilangnya Eril, kita melihat sosok pak Ridwan Kamil dan teh Atalia sama seperti orangtua pada umumnya : guratan di wajah mereka dan percik cahaya mata tak dapat menyembunyikan dalamnya rasa takut dan rasa sakit.

Memang, tak ada rekaman tersiar airmata yang tumpah dan tangisan pilu kedua orangtua Eril. Tapi jumlah airmata keduanya, boleh jadi melampaui debit air sungai Aare. Panjang kalimat doa keduanya, lebih ukurannya dari kompilasi panjang sungai-sungai yang ada di dunia. Beratnya beban yang menghimpit dada, melebihi tonase semua alat berat dan canggih yang digunakan untuk mencari keberadaan Eril.

Betapapun kita mencoba berempati, tak ada yang mengetahui detil kepedihan hati pak Ridwan Kamil dan teh Atalia, kecuali Allah Swt. Begitu beratnya ujian yang mengatasnamakan cinta paling suci dan paling tulus dari jalinan manusia ini, hingga balasannya pun tak tertandingi. Karenanya, berita-berita tentang balasan orangtua yang mengikhlaskan anaknya wafat, begitu banyak bertebaran. Janji syafaat, janji kemudahan di yaumil akhir, janji surga, hingga janji dibangunkan rumah khusus bagi para orangtua dengan istana megah di firdausNya.

***

Bagi adik-adik remaja yang saat ini tengah galau hidupnya, dan berpikir untuk melukai diri atau bahkan mengakhiri hidup, kepedihan pak Ridwan Kamil dan teh Atalia dapat menjadi gambaran, beratnya derita orangtua ketika harus kehilangan anak yang dikasihnya. Janganlah sampai pernah melukai diri, karena airmata orangtua adalah kepedihan panjang yang hanya dapat dihapus oleh usapan Rahman dan Rahim dari Allah Ta’ala.

Bagi orangtua yang mungkin tengah mengalami konflik berat dengan Ananda, kepergian Eril yang demikian mendadak dan menimbulkan lubang menganga di hati kedua orangtuanya, dapat terjadi pada hati orangtua manapun. Kita masih memiliki kesempatan untuk mencintai, mendekap, memeluk, mengelus Ananda; tentu ini adalah rizqi dan kebahagiaan yang tak dapat dinominalkan dengan materi sebesar apapun.

2. 𝑰𝒛𝒓𝒂𝒊𝒍 𝒕𝒂𝒌 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒉 𝒖𝒔𝒊𝒂

Orang mungkin bertanya-tanya : mengapa bukan yang lainnya? Mengapa bukan yang lebih tua, yang lebih senior, yang lebih berdosa? Eril masih punya banyak kesempatan dalam hidup untuk melakukan bayak hal!

Pertanyaan-pertanyaan rasional tersebut, tak akan menemukan jawaban pada sebuah tatanan kehidupan ghaib yang kunci-kuncinya ada di tangan Tuhan. Sepanjang sejarah, Izrail memiliki catatan yang hanya diketahui Allah Swt. Kematian bukan seperti final countdown yang dimulai dari angka terbesar menuju angka terkecil. 80, 70, 60, 50, dst. Acak. Random. Tak terprediksi. Tanpa firasat.

Rasulullah Saw sendiri mengajarkan bagaimana seorang muslim mengawali dan mengakhiri hari dengan kalimat-kalimat dalam bacaan ma’tsur. Doa-doa yang diajarkan beliau agar manusia siap menghadapi kondisi apapun dalam hidupnya.

3. 𝑱𝒆𝒋𝒂𝒌 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏

Mengapa banyak pihak menangis?
Apakah karena ia putra pembesar dan anak seorang terpandang?

Saya rasa bukan hanya itu. Sebab, banyak putra tokoh terpandang yang juga tidak mampu menguras emosi seperti kisah Eril. Jejak hidupnya, jejak akademis dan prestasinya, jejak media sosialnya dapat memberikan informasi kepada khalayak siapa ia sesungguhnya. Kedekatannya dengan ibunda, memberikan kehangatan di hati kita : betapa besar cintanya sebagai seorang pemuda pada sosok yang melahirkannya. Betapa jarang sekarang kita disuguhkan kisah-kisah semacam itu, di dunia serba cepat yang lebih banyak mengedepankan hubungan dangkal antar sesama manusia. Tersenyum kita dalam derai airmata melihat teh Atalia bersama Eril di berbagai moment bersama, demikian mesra seperti kakak adik. Seperti sepasang kekasih. Seorang pemuda yang mencintai ibunya, bukankah itu pertandan jejak kebaikan?

Karenanya, bila ingin berakhir baik, kita pun harus menuliskan jejak kebaikan sepanjang sisa usia.

4. 𝑪𝒂𝒉𝒂𝒚𝒂 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒆𝒈𝒆𝒍𝒂𝒑𝒂𝒏

Airmata saya sebagai ibu, tumpah melihat perjalanan kisah Eril sejak hilang dan postingan teh Atalia bahwa ia harus kembali ke Indonesia. Hati kita bergetar dashyat melihat pak Ridwan Kamil adzan di tepi sungai Aare. Begitu banyak netizen Indonesia merasakan hal yang sama. Pertemuan-pertemuan, rapat-rapat 𝘰𝘯𝘭𝘪𝘯𝘦 dan 𝘰𝘧𝘧𝘭𝘪𝘯𝘦, nyaris semua membahas Eril.

Yang lebih membuat hati teriris adalah tindakan pak Ridwan Kamil dan teh Atalia. Hari demi hari dalam proses pencarian. Mereka berdua ingin berada di sisi putranya sampai kapanpun, namun hidup harus terus berjalan.
Hati kita ikut terbelah, remuk dalam kegetiran.

***

Tapi kepergian Eril mengingatkan saya pada potongan film 𝙆𝙪𝙧𝙪𝙡𝙪𝙨 𝙊𝙨𝙢𝙖𝙣, sebuah 𝘴𝘤𝘦𝘯𝘦 saat Bamsi Bey kehilangan putranya. Perkataan Bamsi Bey yang menangis dalam kepedihan atas kematian putranya yang muda demikian menyayat, namun kata-kata yang diucapkannya demikian penuh cahaya keimanan.

“Tuhan, terimakasih. Engkau telah ambil putraku dalam keadaan beriman. Bagaimana jika ia tidak pergi sekarang, dan kelak Kau ambil dalam keadaan sebagai seorang tiran?”

***

Masyaallah.
Kepergian Eril yang meninggalkan luka mendalam bagi orang-orang yang mencintainya, memberikan cahaya pada anak-anak muda : bahwa Izrail bisa datang kapan saja dan ini membuat semua pihak bersiap. Kepergian Eril juga memberikan cahaya bagi para orangtua agar memanfaatkan sebaik waktu bersama Ananda, tidak menghabiskannya hanya untuk bersosial media apalagi mengumbar kemarahan tanpa bijaksana.

5. 𝑩𝒂𝒈𝒂𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒌𝒊𝒔𝒂𝒉 𝒕𝒆𝒏𝒈𝒈𝒆𝒍𝒂𝒎?

Hanya Allah Swt yang tahu, kisah sesungguhnya dari perjalanan hidup manusia, termasuk Emmeril Mumtadz Kahn. Tak ada yang tahu, termasuk paranormal atau “orang-orang pintar” yang berusaha mencari tahu di mana ia sekarang, bagaimana kondisinya, dan di alam mana kehidupannya.

Saya hanya ingin bercerita tentang kisah sahabat saya, seorang muslimah shalihah yang suaminya wafat tenggelam.

Semuanya terjadi tiba-tiba, ketika sang suami ingin menyelamatkan satu nyawa di sungai dan justru ia yang syahid. Yang terbayang adalah bagaimana prosesi ia tenggelam, jam berapa ia hanyut, bagaimana ia berteriak-teriak, bagaimana ia kelelahan, bagaimana ia sesak napas, bagaimana ia sakaratul maut, bagaimana caranya mengatasi rasa sakit dan seterusnya.

Pikiran-pikiran buruk bermain di benak dan pertempuran rasional-irrasional terjadi di kepala.

***

Namun, temuan di lapangan sungguh mengejutkan dan menampar muka kami semua yang sok tahu dan suka bermain dugaan. Seolah Tuhan mencibir kepada kami dan berkata, “Apa yang kamu tahu tentang wafatnya hambaKu yang tenggelam?”

Hasil otopsi dokter dicocokkan dengan waktu kejadian dan semua bukti forensik menjelaskan:
𝘕𝘺𝘢𝘸𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘐𝘻𝘳𝘢𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘦𝘭𝘶𝘱 𝘥𝘪 𝘢𝘪𝘳.

***

Kami menangis mendengarnya. Merasa hina dengan semua dugaan dan permainan kotor fikiran ini. Ia bahkan telah wafat sebelum tubuhnya perlahan masuk ke dalam air. Artinya, Allah memuliakannya dengan sakaratul maut yang tenang dan cepat, tanpa kesakitan berarti.

Selamat jalan, Aa Eril.
Selama menempuh keabadian, Emmeril Kahn Mumtadz.
Sungai Aare menjadi saksi cinta manusia kepadamu. Insyaallah, cinta Tuhan dan para malaikat-malaikatNya lebih besar dari cinta kami semua. Doa kami juga untuk pak Ridwan Kamil dan teh Atalia sekeluarga, juga adinda Camilia Latetia Azzahra semoga Allah Swt melimpahkan keberkahan dan rahmat tak bertepi pada keluarga luarbiasa ini yang diberikan ujian istimewa.

 

Oleh: Sinta Yudisia (Sumber: Facebook Sinta Yudisia)

Sumber photo: IG teh Atalia

Lihat Juga

Keluargaku Support Systemku

Keluargaku, Support Systemku

Support system merupakan bentuk dari dukungan sosial, dimana bentuknya bisa berupa keberadaan orang lain yang dpt diandalkan untuk memberi bantuan, semangat, penerimaan dan perhatian sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan hidup seseorang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *