Sabtu , 19 September 2020
kapal nabi nuh

Kapal

Words In The Qur’an Challenge hari ke-26

Masih ingat, saat membahas tentang laut kemarin, salah satu manfaatnya adalah sebagai jalur transportasi air.

Sebagai khalifah yang berakal, kita diberi kesempatan oleh Allah sebanyak mungkin untuk melakukan perjalanan di muka bumi ini (baik di darat, udara dan air) untuk membuktikan tanda-tanda kebesaranNya sehingga membuat kita semakin bertakwa.

Pada perjalanan melalui air (laut) kita diberikan ilham untuk membuat transportasi (salah satunya kapal) yang berguna untuk menunjang kehidupan kita.

Hal ini tergambarkan pada Surah An Nahl ayat 14:

“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.”

Kapal dapat berlayar atas ijin Allah dengan adanya ombak besar maupun kecil di lautan yang seluruh gerakannya ada dalam genggaman Allah Azza wa Jalla.

Ombak terjadi akibat digerakkan oleh angin yang bergesekan dengan air permukaan laut. Selain itu tarikan gravitasi matahari dan bulan pada bumi juga bisa menyebabkan gelombang yang biasa dikenal dengan gelombang pasang dan surut.

Masya Allah… Canggih sekali Allah menjadikan semua itu saling bertautan.

Selain untuk memudahkan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, Allah juga memberi petunjuk pada Nabi Nuh untuk menjadikan kapal sebagai penyelamat kaum beriman dimasanya.

Kala itu Nabi Nuh as berdakwah sejak usia 40 tahun hingga 950 tahunan. Ia mendakwahi penduduk Armenia agar mau menyembah Allah saja. Namun sudah ratusan tahun berdakwah, pengikutnya sangat sedikit. Beliau pun sedih dan mengadu kepada Allah, hingga Allah memintanya untuk membuat kapal (bahtera) yang cukup besar karena Allah berencana mengazab penduduk Armenia dengan air bah.

Dalam proses pembuatan bahtera itu Nabi Nuh masih membuka peluang dan mengajak mereka bertobat, tapi mereka mengabaikan dan mengoloknya.

Hingga saat kapal sudah jadi ia kumpulkan pengikutnya yang setia, dan hewan-hewan yang ada disekitar situ yang masing jenisnya berjumlah sepasang.

Saat air bah tiba, dan para penduduk hanyut di dalam air itu, ia melihat sang anak sedang menaiki bukit untuk menyelamatkan diri, lalu ia tawarkan untuk naik ke kapalnya, namun anaknya itu menolak sehingga ia termasuk yang binasa.

Allah menghibur Nabi Nuh dengan mengatakan bahwa siapa saja yang tak menyembahKu sesungguhnya bukan bagian dari keluargamu.

Setelah air bah surut, mereka melanjutkan hidup baru dalam naungan keimanan yang semakin kokoh.

Wallahu’alam

 

📍 Sumber diskusi dan berkisah:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia…” (Surah Al Baqarah [2]: 164)

Poin penjelasan:

  1. Allah yang membuat kapal dapat berjalan di samudra dengan menciptakan gelombang besar dan kecil di laut
  2. Allah jadikan laut sebagai tempat mata pencaharian dan pemenuhan kehidupan manusia dengan mengilhami manusia menciptakan kapal-kapalnya sendiri.

Aktivitas:

  • Ayah dan Bunda dapat menggali pengetahuan ananda tentang kapal
  • Ayah dan Bunda dapat menambahkan pengetahuan bagaimana manusia diberikan kelebihan akal menjadi khalifah hingga dapat menciptakan transportasi seperti kapal yang membantu memenuhi keperluannya
  • Ayah dan Bunda dapat mengisahkan tentang bahtera Nabi Nuh sebagai salah satu petunjuk Allah untuk menyelamatkan kaum beriman.

 

🚢🚢🚢🚢🚢🚢🚢🚢🚢

 

#WordsInTheQuranChallenge
#QuranStorytelling
#KeluargaMuslim
#RamadanFamilyProject
#Cahyaloka
#LiterasiParenting
#LiterasiQuran
#GerakanLiterasi
#Literasi
#RamadanKarim
#LailatulQadar
#DiRumahAja
#AhsabulKahfi

Simak kisahnya di channel youtube berikut ini:

 

Reaksi anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Lihat Juga

angin

Angin

Words In The Qur’an Challenge hari ke-27 Angin adalah aliran udara dalam jumlah yang besar …

WhatsApp Kami