Aksi Mengepung Kantor Kedutaan Besar China

Aksi Mengepung Kantor Kedutaan Besar China

CAHYALOKA.COM – Alhamdulillah, ba’da shalat Jum’at, 21 Desember 2018, ratusan ribu massa dari Umat Islam Bangsa Indonesia (UIBI) yang berasal dari berbagai penjuru Ibukota Indonesia, memadati area Mega Kuningan Jakarta Selatan, melakukan aksi mengepung Kantor Kedutaan Besar China.

Bukan tanpa sebab hari ini ratusan ribu UIBI melakukan aksi mengepung Kantor Kedutaan Besar China. Bukan karena sentimen suku, agama, ras dan antargolongan (sara). Dan, bukan juga didorong oleh kedengkian atas hegemoni China di dunia. UIBI bergerak mengepung Kantor Kedutaan Besar China, dilatari oleh rasa kemanusiaan sejati yang menentang penindasan manusia atas manusia, agama atas agama, bangsa atas bangsa, dan negara atas negara.

Mata kemanusiaan terbelalak, belum juga usai pengembalian hak kemerdekaan Negara Palestina yang dirampas oleh Zionis Israel, kini, dari Uyghur terdengar jeritan dan isak tangis memilukan. Raungan kesakitan dan anyir darah dari luka deraan penyiksaan menyesaki seluruh pemukiman Uyghur. Tiap waktu, hanya duka nestapa menyelimuti seisi negeri. Rakyat Uyghur sedang ditindas tirani, fakta itu yang terjadi.

Etnis Uyghur menganut ajaran Islam. Memukimi wilayah provinsi Xinjiang, sebelah barat laut negeri Tirai Bambu. Sebelum tahun 1949, wilayahnya dikenal dengan sebutan Uighuristan atau Terkestan Timur. Luas wilayahnya empat kali luas pulau Sumatera. Menurut catatan China, Uyghur merupakan salah satu suku tertua di Asia Tengah.

Etnis Uyghur populasinya lebih dari empat puluh lima persen penduduk Xinjiang, yakni tak kurang dari sepuluh juta orang, hampir setara dengan jumlah penduduk provinsi DKI Jakarta. Tak hanya Uyghur, di provinsi Xinjiang bermukim suku asli lainnya, Khazak, Hui, Tajik, Uzbek dan Tartar, yang seluruhnya memeluk agama Islam. Sedangkan etnis Han, Khalkhas, Mongol, Xibe, Manchu, Rusia, dan Daur memeluk keyakinan lain.

Sejarah penindasan terhadap Etnis Uyghur telah berlangsung sejak lama, bahkan ketika China dimasa kekaisaran pun Uyghur sudah menjadi bulan-bulanan kekuasaan yang menyisakan derita tak berkesudahan. Kekuasaan yang silih berganti di China tak pernah mengubah derita menjadi bahagia. Sebaliknya, setiap kekuasaan sedari era dinasti hingga kiwari hanya memastikan estafeta penindasan harus tetap berlangsung.

Seperti disaat Mao Tse Tung (Mao Zedong) menjadi pemimpin China, Etnis Uyghur bagaikan sasaran latihan tembak serdadu berlatih kecermatan membidik. Mao Zedong atau dikenal dengan nama Mao, adalah seorang yang turut terlibat pada penggulingan dinasti Qing yang berkuasa lebih dari dua ribu tahun. Mao berhaluan Komunis, sejak muda ia bergabung dengan Partai Komunis China (PKC) yang didirikan Cheng Duxiu dan Li Dazhao pada tahun 1921. Karir Mao di PKC cukup cemerlang, ditandai dengan memimpin tentara merah di tahun tahun 1934 sedang 1935. Hingga tahun 1949, Mao memproklamirkan diri sebagai Pemimpin Rakyat China setelah PKC memenangkan pertarungan politik di tanah Tiongkok.

Masa kepemimpinan Partai Komunis China bagi Etnis Uyghur merupakan zaman dimana mimpi buruk tak juga berakhir. Persekusi menjadi rutinitas sehari-hari yang menggelayuti Etnis Uyghur. Bahkan lebih dari itu, pemandangan mengerikan tak pernah luput dari kehidupan Etnis Uyghur sehari-hari. Penangkapan, penculikan dan pembelengguan di camp-camp pengap berbau busuk harus dilakoni Etnis Uyghur hingga maut menjemput, atau menjadi murtad karena tak kuat menjalani penyiksaan sepanjang hari. Penganiayaan, pemerkosaan, dan pembunuhan bak menu makan yang harus dihadapi tanpa dapat mempertahankan diri.

Kebengisan pemerintahan otoriter Petugas Partai Komunis China sejak awal dari kepemimpinan Mao Zedong, hingga kepemimpinan Xi Jinping telah dipraktikan terhadap Etnis Uyghur. Duka nestapa tak terperikan dari generasi ke generasi mengharu biru dinding sejarah Etnis Uyghur. Namun, dunia buta, tuli dan bisu. Pemimpin-pemimpin negara di dunia diam tak bersuara. Senyap, menyembunyikan kenyataan telah luluh lantaknya hak asasi manusia di provinsi Xinjiang. Sunyi, menyembunyikan penindasan yang dilakukan oleh anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memegang hak veto.

Itulah mengapa dan menjadi alasan rasional UIBI berduyun-duyun mengepung Kantor Kedutaan Besar China. UIBI bergerak atas dasar rasa kemanusiaan sejati yang berpihak pada kaum tertindas. Jelang aksi pengepungan berakhir, UIBI menyampaikan kepada Pemerintah China untuk segera menghentikan penindasan. Pemerintah China juga diminta segera membebaskan Etnis Uyghur dari sekapan di camp-camp konsentrasi. UIBI pun memperingatkan, jika tak menggubris apa yang telah disampaikan, maka UIBI akan kembali dengan jumlah massa yang lebih besar. [galuh]

Sahabat…
Masihkah dapat dirimu menghimpun mozaik bahagia disaat lara menimpa batita, balita, dan keceriaan belia yang kehilangan ayah dan bunda?

Sahabat…
Masihkah dirimu bersuka ria ketika cinta dirampas lalu dihempaskan ke camp-camp penyiksaan?

Sahabat…
Masihkan dirimu dapat tertawa ketika wanita suci diperkosa bergilir, lantas dicampakkan dengan raga penuh luka menganga tanpa busana?

Sahabat…
Tentang Uyghur adalah bagaimana kita menjadi manusia !

 

#saveuyghur

 

Aksi Mengepung Kantor Kedubes China [Jum’at, 21 Desember 2018]

Reaksi anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Lihat Juga

Kelas Literasi Anak Depok Sesi III

Mengenal Skenario dan Vlog bersama Kelas Literasi Anak Depok

CAHYALOKA.COM – Tidak terasa 1 Desember 2018 kemarin adalah penyampaian materi terakhir dalam #KelasLiterasiAnakDepok. Pada …

WhatsApp Kami